Senin, 29 Juni 2009

dahsyatnya Kebiasaan

Cemilan berserakan, lampu terang benderang ga kurang dari 40 watt, buku tergeletak sembarangan, tanpa selimut, dan tanpa *menggosok gigi* adalah cara tidur yang sebenarnya sudah lama ku tinggalkan. Entah kenapa semalam semua detail yang aku sebut terjadi lagi. Tidur jam sembilanan kayaknya-atau ketiduran sich lebih tepatnya-terus kebangun dalam keadaan bingung dan penuh tanya..

Kenapa lampu-nya ga di matiin ya?
Kenapa ga pake selimut?
Kenapa kacang berserakan dipinggir kasur?
kenapa..kenapa dan kenapa..

dan ga tau kenapa aku mesti bangun jam 3 pagi Cuma buat mempertanyakan ini semua, lalu berdiri mencari2 sesuatu, dan bersandar di dinding secara ga jelas dengan posisi masih berdiri. Beberapa menit diem Cuma buat mutusin mau nerusin tidur, nulis, berkhayal, atau maen. Maeen??!@#$%^&*(-)

Tapi akhirnya tidur lagi sich...dengan satu pikiran logis yang masih tersisa ’kalo ga tidur, ntr proses detoxifikasi-nya ga optimal....’ :p

Dan paginya, ya sich entah itu sugesti, udah kebiasaan, atau memang pembuktian dari logika2 yang ada, atau mungkin juga semua opsi itu bener. Aku terbangun dengan keadaan yang rada2 ga fresh, sampai harus memaksakan diri untuk tersenyum, membujuk diri biar lebih semangat. Btw, bagi yang belum tau bahwa membiasakan diri untuk tersenyum dan sekedar mengucapkan selamat pagi untuk diri sendiri adalah kebiasaan yang baik. Bisa meningkatkan aura bahagia dan percaya diri, juga menumbuhkan rasa sayang sama diri sendiri, yang nantinya kita jadi orang yang penuh syukur kepada Sang Pencipta kita.

Setiap orang pasti punya strategi untuk memacu semangatnya sendiri saat harus bangun pagi dengan rasa malas, atau blue. Dan itu harus karena kalau engga, hal itu bisa mempengaruhi kualitas kita seharian. Buat aku sendiri cukup dengan naik ke lantai lima, dan menikmati semua persembahan pagi ( lihat matahari yang baru terbit,mengitarkan pandangan melihat awan2 lembut di langit, kicauan burung, wangi pagi) bisa bikin aku seger lagi.

Satu hal yng paling terngiang dengan kejadian semalam adalah apa yang di bilang oleh Sean Covey dan Andrea Hirata dalam masing2 buku mereka tentang Dahsyatnya Kekuatan Kebiasaan. Makanya, aku setuju banget sama kata2 Sean yang bilang :

Mula-mula kamu membentuk kebiasaan
Lama-lama kebiasaan akan membentukmu

That’s definitely right!!

Kadang demi membiasakan diri untuk melakukan sesuatu kita hanya butuh beberapa waktu tertentu dengan mengorbankan kebiasaan buruk yang menyenangkan, belajar memegang komitmen pada diri sekecil apapun, dan berusaha mengendalikan keinginan yang ingin kita hentikan. Tampak sederhana saja meskipun terasa sulit dan memaksa. Tapi, tanpa sadar lama2 kita tak perlu terbebani seperti itu lagi karena tanpa sadar kita sedang membangun refleks diri, membiarkan hal2 yng awalnya sulit itu jadi kebiasaan kita dan jadi sesuatu yang sifatnya otomatis untuk dilakukan. OTOMATIS.

Itulah yang terjadi padaku, itulah kenapa kejadian semalam sempet jadi rentetan pertanyaan dan agak ’beban’ saat bangun. Karena beberapa tahun aku berusaha melakukan pembiasaan2 diri untuk melawan tabiat semula di awal itu.

Dulu, hampir setiap malam..*eh emang tiap malam dech* aku tidur dalam keadaan yang lebih kacau dari itu. Notebook bisa alih fungsi jadi bantal, guling, atau kadang2 bantal kaki malah. Buku2 yang terhampar jadi keriting ga karuan karena ketindih, makanan, baju2 kotor, semua adalah selimut yang bikin suasana jadi hangat dan ramai pada saat itu.
Kalau adikku lagi rajin, ia akan membuatku terbangun dengan buku yang sudah ditumpuk rapi di rak, baju2 kotor di tempat cucian, dan notebook di lemari tempat dia biasa diletakkan. Hm..I MISS THAT MOMENT SO MUCH..ya itulah efek kebiasaan, sekangen2nya sama masa2 itu, masa2 ketika tertidur karena kelelahan setelah maen game, nulis, baca, ato hanyut dalam lagu2 romantis tapi aku ogah ngulangin sisi2 joroknya.

Orang biasanya memutuskan mengubah kebiasaan karena dorongan diri dan atau lingkungan, pelajaran2 yang di dapat, kejadian buruk sebagai efek kebiasaan buruk atau tanpa maksud apa2,ha?!@#$%^&*(- lagi, Yeah, So do I...

Seperti beberapa contoh aku mengubah beberapa pola hidup dan kebiasaan aku soal tidur.

1. Tidur dalam kondisi gelap : alasannya pernah baca hadits yang disitu Rasul menganjurkan untuk mematikan sesuatu yng bersifat cahaya atau api ketika kita tidur, mengoptimalkan pertumbuhan, dan baru2 ini dapet ilmu kalau tidur dalam keadaan gelap itu memaksimalkan produksi endorfin di tubuh kita. Hormon ini berfungsi sebagai morfin alami untuk menghilangkan lelah setelah seharian beraktifitas. Jadi ketika bangun kita sudah lebih fresh dan rileks. Terus, tidur nyenyak juga faktor penting untuk proses detoxifikasi, yaitu proses pembersihan racun2 yang ada di organ2 tubuh kita.

2. Gosok gigi sebelum tidur, sejak tahu kalo cabut gigi itu sakit dan rahangnya pegel minta ampun, aku jadi rajin gosok gigi. Bertempur lawan kuman, soalnya ga rela kalo giginya harus bolong dan memasrahkan diri untuk pergi cabut gigi lagi. Huumh..no thanks! Bayanginnya aja males..jangan sampe dech sakit gigi lagi. Biar jadi the First and the Last. Amieeeenn…

3. soal cemilan yang berserakan, baju2 kotor dimana2 dan buku yang kelipet2 gara2 ga sempet dirapiin adalah indikasi paling nyata dari aktifitas KETIDURAN dan sama sekali bukan tidur secara sadar. And as I told u above..itu sama sekali ga sehat. Intinya sich kayak artikel yang aku baca tentang cara mencegah kerusakan hati, bukan mencegah kerusakan hati aja sich , tapi sebenarnya ketidak seimbangan sesuatu di diri kita, akan berdampak juga mengacaukan keseimbangan yang lainnya. Unbalanced is unwell ..makanya masih terus berjuang membenahi kebiasaan2 jelek biar lebih cerdas ngurus diri, dan meng-otomatiskan kebiasaan baik in life…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar